Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Petra Sisilia Tafui

sumber gambar: travel.jumia.com


Cerita dari Fatukenat

Fatu-fatu pun tenggelam di Noel Nopo
Ketika Sunbanu menari giring-giring
Sambil menggendong batu
Yang di dalamnya menyimpan sejarah Fatukenat
Kebun bukan lagi milik kesedihan dan tangisan
Embun, bukan lagi rambut yang panjang dari langit
Bukan juga uang berkeping-keping di kolam Noel Nopo
Kebun kini ada di tangan Tafui
Yang katanya liar



Musim Hujan

Hujan mengandung kekuatan leluhur, katamu
Aku, rambut adat yang bertulang
Maka bisakah ia lupa karena hujan?
Kau bertanya balik
Aku, pohon keselamatan yang tersenyum
Ketika hujan muncul
Dan kau selalu terburu-buru
Kita akan baik-baik saja di musim hujan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Liko

copyright joel gendron  Oleh Putry Babys Pada waktu aku masih kecil, nenek dari pihak ayah pernah bercerita padaku tentang hal ini: entah tahun berapa, terlalu lama sekali hiduplah seorang kakek tua bernama Mesakh yang tinggal di kampung bernama Sakteo. Ia memelihara ular liuksaen ( python timoriensis) di sebuah gua dekat rumahnya. Setiap hari ia pergi untuk mengantar makanan. Karena ular itu ia disebut-sebut sangat kaya raya. Ia seorang petani. Ia memang pekerja keras namun dari mana datangnya kekayaan yang melimpah ruah itu? Orang-orang saling berbisik, kekayaan itu datangnya dari liuksaen. Kakek Mesakh punya ratusan ekor sapi dan babi. Jumlah ayam yang tak terhitung banyaknya. Rumah pun seperti istana. Setiap kali orang mengundangnya untuk datang ke pesta pernikahan atau acara adat lainnya, ia akan datang tidak dengan tangan kosong. Ia menarik serta sapi dan babi sebagai hadiah untuk tuan pesta. Kabar tentang kakek Mesakh sampai juga ke telinga bupati. Aku lupa ...

Puisi-Puisi Alda Fobia

sumber: yourstory.com Hidup aku berputar-putar dalam sebuah lingkaran aku belum tahu maksudnya hanya ada satu jalan di sana dengan salib sebagai pemandu tak jauh dari salib itu sepuluh titik perhentian kembali memaksaku bertanya apa maksud dari semua ini? hidup dalam sebuah cincin rosario kadang hitam kadang putih Tas Napasku aku mengurung matahariku dalam rimbanya pikiranku benar-benar kosong tak sempat memikirkan apa-apa lalu mulailah gangguan itu datang dan pergi: mereka memengaruhiku untuk masuk ke dalam dunia gelap horor sekali! sepertinya tidak ada penghuni di sana untunglah aku tetap bersikeras memilih pergi kepada hati yang putih hati yang sedang memeluk muara hari baru bersama matahariku dalam sebuah tas napasku

Puisi-Puisi Markus Aldino Sesfaot, Felichia F Lengga, Sersi Lani Nitbani dan Angela G Nahak

Mollo Mereka menari seirama bonet Orang-orang yang menyemburkan aneka pantun Laki-laki memakai selimut tenun Lantunkan lagu demi hati riang Oh orang Mollo, orang berbudaya Air Mata Hujan Batu Air mata hujan menyusu batu-batu di sekeliling pusara ibu Bukit terbesar akhirnya tenggelam karena kesedihan Dari cekungan paling rahasia Sunbanu menari giring-giring di dinding bukit batu Gunung-gunung kemudian menjadi sakit karena bebunyian itu Siapa menyangka Tafuilah yang menjadi hutan pelindung bagi semua Yang bernama maupun tidak Air mata hujan di dinding bukit batu Air Mata Hujan Batu Laob Sang Pandai Besi Ada kisah suku Bijoba bersembunyi di balik bebatuan Lalu bergabunglah Kase, orang asing teman meratap Segala musuh disingkirkan Senjatanya adalah kata-kata Kase sang pandai besi Kase yang merasa hebat Kase yang menganggap dirinya manusia pertama Kase Laos Kase dari Laob Laob sang pandai besi Puisi-Puisi Felichia F Lengga ...