Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Oepoto

istockphoto.com Oleh Rafael Rahaq Wutun Pada suatu masa di Me’o hiduplah seorang kakek tua bersama istrinya. Namanya kakek itu Oe. Nama yang sangat pendek. Sehari-hari mereka menggembalakan ternaknya ke atas perbukitan yang hijau di antara Netpala dan Ajaobaki. Saat petang ia dan istrinya akan menggiring kawanan ternaknya kembali ke kandang dekat rumah. Pekerjaan itu mereka lakukan setiap hari dengan sukacita. Namanya Oe, ia tidak susah air. Ketika musim kemarau, sapi-sapinya tidak pernah kehausan. Dengan mengusap permukaan rumput, air jernih akan keluar. Ketika ia pergi, tempat itu kering kembali. Oe artinya air. Istrinya lebih rapuh. Dalam perjalanan ke padang yang lebih jauh, ia terjatuh dan mulai sakit-sakitan. Hati kakek Oe menjadi semakin sedih ketika akhirnya sang istri meninggal dunia. Ia menjadi suka melamun dan tidak semangat bekerja. Kakek Oe mulai sering bicara sendiri. Saat di padang, ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Hari masih siang dan matahar...

Liko

copyright joel gendron  Oleh Putry Babys Pada waktu aku masih kecil, nenek dari pihak ayah pernah bercerita padaku tentang hal ini: entah tahun berapa, terlalu lama sekali hiduplah seorang kakek tua bernama Mesakh yang tinggal di kampung bernama Sakteo. Ia memelihara ular liuksaen ( python timoriensis) di sebuah gua dekat rumahnya. Setiap hari ia pergi untuk mengantar makanan. Karena ular itu ia disebut-sebut sangat kaya raya. Ia seorang petani. Ia memang pekerja keras namun dari mana datangnya kekayaan yang melimpah ruah itu? Orang-orang saling berbisik, kekayaan itu datangnya dari liuksaen. Kakek Mesakh punya ratusan ekor sapi dan babi. Jumlah ayam yang tak terhitung banyaknya. Rumah pun seperti istana. Setiap kali orang mengundangnya untuk datang ke pesta pernikahan atau acara adat lainnya, ia akan datang tidak dengan tangan kosong. Ia menarik serta sapi dan babi sebagai hadiah untuk tuan pesta. Kabar tentang kakek Mesakh sampai juga ke telinga bupati. Aku lupa ...

Di Ajaobtomas, Pohon-Pohon Kasuari Pernah Mati Kecuali Pohon Lakoat

 alone tree by Cloudia Jetter Oleh Sandra Natasia Liu Di Ajaobtomas, semua pohon menyukai langit biru dan angin sejuk yang bertiup dari arah selatan. Di Ajaobtomas, semua pohon kasuari ( casuarina equisetifolia ) pernah mati tersambar petir bersama dengan seorang pemuda ganteng bernama Tomas. Tomas yang kehujanan setelah pulang dari kebun mampir berteduh di bawah hutan kasuari hingga tiba-tiba, langit mengeluarkan energi besar yang langsung menghanguskan tubuhnya juga tubuh pohon-pohon kasuari di sekelilingnya. Di Ajaobtomas, semua pohon tumbuh subur dan lebat jauh setelah peristiwa malang menimpa Tomas. Setelah peristiwa itu Ajaobtomas tumbuh berbagai jenis pohon selain kasuari. Tumbuh bersama nama Tomas yang selalu diingat banyak orang. Di Ajaobtomas, semua pohon tinggi menjulang dan sehat kecuali aku, pohon lakoat (eriobotrya japonica ) tua yang sebagian dahannya telah lapuk. Di Ajaobtomas, akulah pohon yang paling tua dan dihormati. Orang-orang tidak ma...

Dongeng dari Kap Na’m To Fena

The Horse Sketch by Angel Ciesniarska Oleh Dino Sesfaot Di masa lalu aku dan beberapa saudaraku tiba-tiba saja muncul dari gua yang sangat gelap, dalam dan dingin. Kami keluar dengan tubuh telanjang dan ingatan yang sudah bekerja dengan sangat baik. Yang kuingat, akulah manusia pertama yang keluar dari lubang hitam itu. Seseorang telah memuntahkan kami ke tempat ini dan kami tidak ingat apa-apa lagi tentang masa lalu di dalam gua. Kami hanya ingat ketika keluar dari lubang yang terasa lengket dan berair itu, kami merasa sudah sangat besar dan malu. Segeralah kami membuat pakaian sementara dari kulit kayu dan dedaunan segar. Aku lupa menghitung jumlah saudara-saudaraku. Sebab ketika lahir dari lubang itu beberapa di antara kami sudah langsung berpencar entah ke mana. Mereka yang pergi dan berenang bersama para buaya menuju ke pulau-pulau lain. Sementara manusia lain yang memilih tinggal, termasuk aku, mulai melakukan kerjasama untuk bertahan hidup. Dua bulan sekali mun...