Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Peserta Workshop "Anak di Antara Mata Air, Hutan dan Batu"

Yoseph Alfredo Sesfaot

Cerita Batu

aku adalah ciptaan Tuhan
aku diciptakan beraneka macam
aku juga bermanfaat bagi makhluk hidup
aku adalah batu

bongkahan, pecahan, dan masih banyak lagi
aku juga terkesan menarik
aku juga banyak dibutuhkan
tapi terkadang aku juga dicampakkan

aku disia-siakan manusia
dan lebih sadis lagi, teknologi merusak aku
aku bisa bersatu, tapi aku juga bisa dipisahkan
hatiku sedih

hatiku remuk redam
kejamnya dunia fana ini
aku bagai anak yang kehilangan ibu
dan saudara-saudaraku

***

Maria Apriyani Bessy

Tubuhku Batu

Mataku pernah lupa pada cahaya matahari
Sebab gunung-gunung telah menutupi kesedihanku
Tulang tubuhku bahkan tak tahu apa itu amarah
Tubuhku batu
Yang merasa tak mampu lagi melanjutkan hidupnya
Tubuhku batu yang berserakan di halaman rumahmu
Aku takut, gunung-gunung akan pergi
Dan melupakanku

***

Findy Lengga
Pohon

Aku membuahi seribu anak-anak
Yang mungil dan berwarna merah
Aku tak pernah dikhianati orang
Mereka senang karena keteduhanku
Aku tahu perasaan berada di istana yang indah dan megah
Ketika kutiupkan angin ke punggung mereka
Siapa yang sedih akan ditenangkan
Kuharap manusia mau menjagaku

***

Markus Aldino Sesfaot
Air Mata Hujan Batu

Air mata hujan menyusu batu-batu
Di sekeliling kuburan ibu
Bukit terbesar akhirnya tenggelam
Karena kesedihan
Dari cekungan paling rahasia
Sunbanu menari giring-giring
Di dinding bukit batu
Gunung-gunung kemudian menjadi sakti
Karena bebunyian itu
Siapa sangka
Tafuilah yang menjadi hutan pelindung
Bagi semua yang bernama maupun tidak
Air mata hujan di dinding bukit batu
Air
Mata
Hujan
Batu

***
Petra Sisilia Tafui

Pohon

Di setiap pohon tersimpan kekuatan leluhur
Tumbuh liar membentuk tulang dan rambut-rambut adat
Kalau mata ini lupa karena cemburu
Hati akan hitam
Jantung akan mengering
Setiap pohon akan menyelamatkan
Setiap pohon adalah ibu bagi hujan

***

Alexander Fransiskus Karel Oematan
Hutan

Pagi bangkit seketika membuat hutan-hutan bising
Burung-burung berlarian mencoba membuat hutan tersenyum
Tapi hutan terlalu bising
Hanya itu caranya agar tanah menjadi subur
Daun-daunnya menimbulkan suara aneh
Agar mata air tidak mengering
Ketika hutan subur
Segalanya akan tertawa lebar
Pagi, burung-burung dan hutan
Adalah sahabat selamanya

****

Sandra Natasia Liu

Beringin

Beringin di kampungku menyimpan sebuah kisah
dalam tubuhnya untuk tumbuh dan berkembang
bersama misteri-misteri di halaman Gereja
bersama kisah kuno mengenai perempuan berambut panjang
berpakaian putih
mengenai lelaki tua yang menggembalakan domba-dombanya
di sekitar tubuh beringin
mengenai bayi kecil yang dibuang di bawah tubuhnya
yang mati kedinginan, kehausan dan kesepian
memang ia menyimpan banyak sekali kisah misteri
namun itu semua hanya tipuan yang dibuat oleh dirinya
untuk mengingatkannya tentang masa lalu
sebagai anak yang kesepian

Desember 2018




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Liko

copyright joel gendron  Oleh Putry Babys Pada waktu aku masih kecil, nenek dari pihak ayah pernah bercerita padaku tentang hal ini: entah tahun berapa, terlalu lama sekali hiduplah seorang kakek tua bernama Mesakh yang tinggal di kampung bernama Sakteo. Ia memelihara ular liuksaen ( python timoriensis) di sebuah gua dekat rumahnya. Setiap hari ia pergi untuk mengantar makanan. Karena ular itu ia disebut-sebut sangat kaya raya. Ia seorang petani. Ia memang pekerja keras namun dari mana datangnya kekayaan yang melimpah ruah itu? Orang-orang saling berbisik, kekayaan itu datangnya dari liuksaen. Kakek Mesakh punya ratusan ekor sapi dan babi. Jumlah ayam yang tak terhitung banyaknya. Rumah pun seperti istana. Setiap kali orang mengundangnya untuk datang ke pesta pernikahan atau acara adat lainnya, ia akan datang tidak dengan tangan kosong. Ia menarik serta sapi dan babi sebagai hadiah untuk tuan pesta. Kabar tentang kakek Mesakh sampai juga ke telinga bupati. Aku lupa ...

Puisi-Puisi Putry Babys

Natal Pung Kerja Te   (Gara-Gara Natal) Semut asyik merampas makanan Manusia sibuk dalam antrian di toko Harum kue kering menembus atap rumah Inilah Natal kita: Lampu aneka warna berkelap-kelip di jalanan Dan rumah-rumah Jutaan bunyi petasan memecah kesunyian Langit berhiaskan kembang api Kabut di sepanjang jalan Pakaian lama dibuang Orang-orang di pasar berteriak “Buka baru, buka baru. Terlambat sonde dapat.” Rambut cacing dan rambut mie jadi air terjun Alis mata gundul digaris sebatang kayu Kelopak mata berwarna-warni Pipi merah terang Sepatu lima belas senti Dasar manusia! Pengakuan Kami berbicara di sebuah sudut ruangan Ia memakai jubah putih lengkap dengan stola berwarna ungu Ketika kami selesai berbicara Aku pulang dengan tubuh yang ringan Aku merasa kakiku telah tiada             2018